Penampilan kaum muslim (pria) yang sesuai tuntunan Rasulullah SAW itu gimana sih

bismillahirahmanirahim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu...
alhamdulillah dapet kesempatan nge-blog lagi, insyaAllah dapet pahala kebaikannya..
kali ini ane mau posting yang menurut ane agak ngeganjel di benak ane, yaitu kenapa tiap ceramah yang membahas penampilan pasti yang dibahas tentang jilbab atau urusan akhwat (bahasa umumnya: cewek) doang. walaupun sebagian besar audience nya ikhwan (laki-laki). oke lah kalau ceramah itu bertujuan untuk memberikan ilmu kepada kaum ikhwan yang kemudian ilmu itu dipergunakan untuk menasehati mahramnya (bahasa umumnya: muhrim). tapi kan boring juga kalau yang dibahas itu-itu mulu, bukan ingin menyepelekan masalah tersebut. Masalahnya kaum ikhwan ini kebanyakan agak kehilangan identitas dari segi penampilan, beda dengan akhwat yang secara kasat mata dapat dibedakan dengan panjangnya jilbab yang dia pakai.

 Baiklah. berhubung ane tiba2 jadi males nulis lagi, berikut ane tampilkan beberapa video yang sekiranya layak disimak mengenai permasalan penampilan untuk ikhwan (udah faham kan kalau ikhwan itu merujuk kepada laki-laki? soalnya capek kalau dibuat tanda kurung semua). harapan ane posting ini dapat dibaca dan dikomentari oleh rekan2 sekalian untuk dapat dinasehati (ditambah yang kurang, dikoreksi yang salah) dengan komentar2 yang kalau bisa hujjahnya kuat lah. tafadol...

video di atas tentang jenggot yang sering kita lihat pada penampilan sebagian besar para ulama...


Nah, kalau yang sering memperhatikan orang2 berjenggot pasti sering ngeliat dia pake celana yang agak tanggung alias gantung kan? itu namanya "anti-isbal". cek deh video di atas...

Well, pada kenyataannya tidak semua ulama berpendapat sama, sebagian ulama berpendapat "penampilan" itu hanya bersifat optional (not principal thing),. tapi begitulah ulama, mereka juga manusia, dan setiap manusia pasti memiliki pemikirannya masing2 pula. kita tinggal memilih yang mana yang paling baik menurut kita, semoga ikhtiar kita dalam mengikuti perintah Rasul dapat ganjaran yang paling baik di akhirat nanti..

wallahu a'lam bishawab...
Antara Berpacaran dengan Menyegerakan Menikah

Antara Berpacaran dengan Menyegerakan Menikah

 Pemuda itu menangis tersedu-sedu di samping mihrab mesjid. Mushaf ia dekap erat-kuat ke dadanya. Sesekali ia me-lap air mata yang meleleh. Ia merasa begitu rapuh dan lemah. Begitu tak berdaya menghadapi
seorang wanita. Ia telah tergila-gila pada wanita itu. Senyuman wanita itu bagai purnama di gelap gulita malam. Suara wanita itu laksana nyanyian bidadariyang merasuk ke pori-pori jiwanya. Ia menangisi dirinya yang tak lagi bisa merasakan nikmatnya berzikir. Menangisi hatinya yang tak lagi bisa khusyuk dalam shalat. Menangisi pikirannya yang selalu membawanya terbang ke wanita itu. Oh,
sungguh hebat deritanya. Dulu ia begitu kokoh dan teguh. Orang-orang menganggapnya seorang laki-laki yang punya prinsip dan berkarakter. Apalagi saat orang-orang tahu dia begitu mampu menjaga hubungan dengan wanita, popularitas keshalehannnya semakin dikenal dan menjadi buah bibir. Itu dulu, namun kini ia begitu tak berdaya dan rapuh.

    Wanita itu betul-betul telah membuatnya terpikat. Seorang wanita yang dalam pandangannya begitu anggun dan sempurna. Cantik, manis, cerdas, hafal al- Qur`an, sopan dan lembut dan lain-lainya. Seorang
wanita yang menurutnya layak dijadikan pasangan hidup menuju sorga. Seorang wanita yang semua
kriteria calon istri dambaan ia temukan pada dirinya. Hampir tiap malam ia menangis. Jika dulu, ia menangis
di kegelapan malam karena dimabuk rindu pada Sang Pencipta, kini ia menangis karena dimabuk rindu pada makhluk-Nya. Apakah Allah tengah menguji dirinya. Apakah Allah tengah menguji kejujuran cintanya.
Ataukah memang sudah waktunya ia menikah. Ia teringat dengan pesan-pesan Ustadznya sebelum
berangkat ke Mesir dulu, pesan-pesan yang masih terekam kuat dalam memorinya. "Anakku, ketahuilah dalam perjalanmu menuntut ilmu nanti, kamu akan diuji dengan banyak hal, dengan
kesusahan hidup, kesulitan biaya, lingkungan, kawan-kawan, dan lainnya. Teguhkan selalu niat di hatimu dan
mintalah pertolongan pada Allah setiap waktu. Dan ingatlah, ujian terberat yang akan kamu hadapi nanti adalah wanita, maka berhati-hatilah menghadapi wanita. Jangan pernah mengikuti ajakan nafsu yang
menyesatkan." "Anakku, berpacaran yang saat ini banyak digandrungi anak-anak muda adalah sikap laki-laki bermental kerupuk dan pecundang dan tipe wanita yang tak punya harga diri, menjalin hubungan secara syar`i dan menikahi dengan cara-cara yang baik, itulah akhlak seorang laki-laki yang didamba dan sikap seorang wanita calon penghuni sorga. Bila godaan itu terasa berat bagimu, berpuasa tak sanggup mengobatimu, maka menikahlah, insya Allah itu lebih berkah dan mengantarkan pada kebaikan." "Anakku, jika kamu mengira berpacaran itu adalah jalan menuju pernikahan, maka engkau telah tertipu oleh nafsumu. Engkau telah termakan bujuk rayu setan durjana. Apakah engkau mau memetik buah dari pohon
sebelum waktunya? Apakah engkau mau membeli barang yang telah usang dan pernah dipakai orang?" 

"Anakku, janganlah engkau mengira, pacaran yang Ustadz maksud bertemu dan jalan berdua-duan semata,
tapi jagalah matamu, pendengaranmu, hatimu dan pikiranmu. Janganlah menjadi pemuda yang lemah.
Ingatlah, engkau adalah pemimpin, jangan biarkan hawa nafsu yang memimpinmu." "Jika suatu saat nanti, dorongan untuk menikah begitu kuat dan menyesak di dadamu, engkau merasa telah
siap, namun orang tua belum merestui dan ada jalan lain yang menghambat. Ustadz sarankan, bersabarlah,
bersabarlah, dan bersabarlah. Sembari terus mencoba dan berdoa tiada henti pada Allah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan ketahuilah, orang-orang yang sabar akan mendapatkan pahala
yang berlipat, dan orang-orang sabar akan memetik mutiara iman yang begitu banyak dalam kesabarannya
itu. Dan yakinlah sesungguhnya bersama satu kesulitan ada banyak kemudahan." "Anakku, jangalah engkau tergoda oleh nafsumu, janganlah engkau tertipu dengan bisikan musuhmu, setan durjana. Mungkin Allah tengah mengujimu, dan menyiapkan untukmu hadiah yang indah. Maka selalulah berbaik sangka pada Allah." Nasehat-nasehat berharga itu begitu mampu menjadi penawar bagi hatinya yang gelisah. Tapi, itu hanya
bertahan sebentar, ledakan perasaannya pada wanita itu ternyata lebih dahsyat dan meluap-luap. Pesan- pesan itu hanya bertahan sesaat

 lalu ketika desakan perasaan itu kembali merasuki jiwa, ia menjadi begitu rapuh dan lemah. Sampai pada akhirnya ia menelpon Ustadznya di Indonesia. Ia menceritakan kegelisahan hatinya,
keresahan jiwa, dan gejolak rasa yang selalu menyesak di dadanya. Ustadznya berpesan kembali, "Anakku, Ustadz bisa memahami keadaanmu, barangkali sudah waktunya bagimu untuk
menggenapkan setengah agamamu. Ustadz sarankan lakukanlah shalat istikharah, jika engkau menemukan
ada tanda-tanda ke arah sana, maka lakukanlah shalat hajat sebanyak-banyaknya, insya Allah, mudah- mudahan dengan cara demikian Allah membuka jalan untukmu. Mintalah pada Allah dengan air mata penuh
harap, menangislah sejadi-jadinya di hadapan Allah. Yakinlah, Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-
Nya." Satu tahun kemudian, sesudah kesabaran yang panjang, setelah menyelesaikan hafalan al-Qur`annya,
ia pun menggenapkan setengah agamanya di penghujung bulan Juni 2010. Ia sangat bahagia.
Kebahagiaan yang tak bisa dlukiskan dengan kata-kata. Ia telah menikah dengan wanita dambaannya, seorang wanita sorga yang Allah hadirkan ke bumi untuknya. Allah telah memilihkan untuknya seorang pendamping hidup yang mecintai Allah dan dirinya dengan sepenuh jiwa dan raga. Tak sia-sia selama ini ia menjaga dirinya dari tergelincir pada perbuatan yang haram. Ia sampaikan kerinduannya terhadap wanita itu pada Allah setiap malam, ia titipkan penjagaan untuk wanita itu pada Allah setiap saat. Ia hantarkan doa-doa penuh ketulusan untuk kebaikan dan keselamatan wanita itu selama ini. Dan kini, Allah mengizinkannya untuk
memetik buah kesabarannya selama ini. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan hamba yang berserah diri
pada-Nya.


Sumber: copas status facebook Ariez Zidane dengan seizin penulis 
Sent from my BlackBerry® 
powered by Sinyal Kuat INDOSAT