Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts
RIYADHUS SHALIHIN (35) Bab Sabar - Ujian Besar, Pahala Besar

RIYADHUS SHALIHIN (35) Bab Sabar - Ujian Besar, Pahala Besar

bismillahirahmanirahim

Pemateri: Ustadz Arwani Amin Lc. MPH

Hadits:

وعن أنسٍ - رضي الله عنه - ، قَالَ :
قَالَ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - : إِذَا أَرَادَ الله بعبدِهِ الخَيرَ عَجَّلَ لَهُ العُقُوبَةَ في الدُّنْيا ، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبدِهِ الشَّرَّ أمْسَكَ عَنْهُ بذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يومَ القِيَامَةِ .

وَقالَ النَّبيُّ - صلى الله عليه وسلم - : إنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ ، وَإنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْماً ابْتَلاَهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ.
رواه الترمذي ، وَقالَ: حديث حسن.

Artinya:

Dari Anas r.a., ia berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Jika Allah menghendaki kebaikan terhadap seorang hambaNya, maka ia menyegerakan hukuman dari suatu siksaan - penderitaan - sewaktu dunia, tetapi jikalau Allah menghendaki keburukan pada seseorang hambaNya, maka orang itu dibiarkan saja dengan dosanya, sehingga nanti akan dipenuhkan balasan - siksaannya - hari kiamat."

Dan Nabi SAW. bersabda - juga riwayat Anas r.a.:

"Sesungguhnya besarnya balasan - pahala - itu menilik besarnya ujian yang menimpa dan sesungguhnya Allah itu apabila mencintai sesuatu kaum, maka mereka itu diberi cobaan. Oleh sebab itu barangsiapa yang rela - menerima ujian tadi, ia akan memperoleh keridhaan dari Allah dan barangsiapa yang marah-marah maka ia memperolehi kemurkaan Allah pula."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini Hadis hasan.

manis.id
Ustadz Sunnah

Ustadz Sunnah

*USTADZ SUNNAH*
*@salimafillah*

Ada istilah yang baru-baru ini membuat dahi berkerenyit, ketika sebagian penuntut ilmu membuat kategorisasi adanya _"Ustadz Sunnah"_ dan _"Kajian Sunnah"_. Saya berfikir, jadi yang selain itu, ustadz apa dan kajian apa?

Dua kemungkinan. Kalau _"sunnah"_ di situ kebalikan dari _"bid'ah"_, maka berarti ada *ustadz bid'ah* dan *kajian bid'ah*. Atau kalau _"sunnah"_ di situ kebalikan dari _"makruhah"_, berarti ada *ustadz makruh* dan *kajian makruh*.

Betapa tak nyaman bagi yang terkena gelaran.

Tidak, saya tak hendak menyalahkan pembuat istilah. Mereka yang bersemangat menuntut ilmu adalah orang-orang yang dimudahkan jalannya ke surga. Betapa saya berharap menjadi bagian dari mereka, walau mungkin hanya senilai tak berarti bagi _Ashhabul Kahfi_ atau bahkan debu yang menempel di kaki.

Tapi bersama itu, mohon izin saya ceritakan ulang kisah berikut ini.

"Suatu kali", demikian dihikayatkan *Imam Tajuddin As Subki* dalam Thabaqatusy Syafi'iyyah Al Kubra, "Seorang perempuan mendatangi majlis ilmu yang dihadiri oleh para Imam ahli hadits. Di antara mereka terdapatlah *Imam Yahya ibn Ma'in*, *Imam Abu Khaitsamah*, *Khalaf ibn Salim*, dan banyak lagi yang lain. Mereka saling menyebutkan hadits, mentartibkan sanad-sanadnya, dan membilang keragaman matannya."

Ketika mereka sedang saling berbagi hadits, tetiba perempuan itu menyela. _"Wahai para berilmu"_, ujarnya, _"Aku adalah seorang wanita yang bekerja sebagai tukang memandikan jenazah. Bagaimanakah hukumnya untukku jika harus memandikan jenazah ketika aku sedang dalam keadaan haidh?"_

Semua 'ulama besar yang hadir waktu itu tidak ada yang mampu menjawab. Mereka jadi saling berpandangan satu sama lain. Dalam benak mereka, tak satupun hadits yang dapat digunakan langsung untuk menjawab persoalan itu.

Ketika majelis itu terjeda hening karena tetap tak ada jawaban yang dinantikan, tetiba masuklah *Imam Abu Tsaur*, murid *Imam Asy Syafi'i*. Di antara 'ulama yang ada di sana pun lalu menunjuk ke arah beliau sembari berkata kepada tukang memandikan jenazah tersebut, _"Tanyakanlah kepada orang yang baru datang itu, sebab dia adalah murid dari pemilik akal separuh penduduk dunia."_

Perempuan itupun menoleh dan mendekat kepada sang Imam. Ditanyakannyalah hal serupa yang sungguh merisaukan dirinya, _"Bolehkah wanita haidh memandikan jenazah?"_

Imam Abu Tsaur tersenyum. _"Tentu saja boleh, tidak ada masalah"_, ujarnya. _"Kamu boleh memandikan jenazah itu dengan dalil hadits yang diriwayatkan oleh 'Utsman bin Al Ahnaf, dari Al Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr, dari 'Aisyah Radhiyallaahu 'Anha, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah bersabda, "Adapun haidhnya dirimu bukanlah berada di tanganmu." Dan juga berdasarkan perkataan Ibunda kita 'Aisyah, "Aku pernah menyirami, membasuh, dan membersihkan kepala Rasulullah dengan air lalu menyela-nyelai rambut beliau, menyisir, serta meminyakinya. Padahal waktu itu aku dalam keadaan haidh."_

_"Apabila kepala orang hidup saja, dan bahkan adalah Nabi"_, simpul Imam Abu Tsaur, _"Boleh disiram, dibasuh, dan dibersihkan oleh wanita yang sedang haidh, apalagi orang yang sudah mati. Tentu kebolehannya lebih jelas lagi."_

Mendengar jawaban yang sangat jeli itu, serta-merta para ahli hadits yang hadir waktu tersebut berebutan membacakan hadits yang telah disebutkan oleh Abu Tsaur dari segala _thuruq_ atau jalur periwayatan yang ada pada mereka. Salah satunya berkata, _"Telah menceritakan si Fulan kepadaku.."_ Yang lain menimpali, _"Kami mengenalnya melalui riwayat si Fulan.."_ Sampai akhirnya mereka membahas derajat berbagai macam riwayat hadits tersebut.

Melihat hal ini, si tukang memandikan jenazah berkata heran, _"Aduhai.. Ke mana saja kalian sebelum ini?"_

Kisah ini sama sekali bukan dalam rangka merendahkan kedudukan para Imam Ahlil Hadits yang mulia. Tidak. Ini hanya, gambaran penting atas apa yang disampaikan *Al Imam Asy Syafi'i*. Beliau menyatakan bahwa *Ahli Fiqih bagaikan dokter yang bukan hanya tahu tentang khazanah obat, melainkan juga kondisi pasiennya*. Sementara itu para *Ahli Hadits adalah apotekernya*.

Sudah seharusnya mereka bekerjasama, bukan saling menjauh dan saling mengatakan bahwa yang satu tak paham obat, yang lain tak mengerti pasien. Atau mengatakan bahwa Ahli Fiqih banyak membuat bid'ah, padahal sebenarnya pendapat mereka berdasar sumber yang shahih tapi disesuaikan dosisnya dengan kondisi masyarakat pada waktu dan tempat tertentu. Atau mengatakan bahwa Ahli Hadits menyusahkan orang, padahal mereka memang hanya memberikan obat dengan dosis yang belum ditulis.

Kalau yang dimaksud _Ustadz Sunnah_ dan _Kajian Sunnah_ adalah para Ahli Hadits, pergi ke Apoteker memang menjadikan kita memperoleh obat. Jawabannya terang dan pasti; sakit A maka obatnya X.

Tapi cobalah sesekali datang ke majelis Ahli Fiqih yang mungkin tidak tampak sebagai _Ustadz Sunnah_ dan _Kajian Sunnah_; barangkali di sana kita akan berjumpa dokter yang akan memeriksa kesesuaian kondisi badan kita dengan obat yang acda.

Kadang memang majelis seperti ini tidak langsung tegas memberi jawab obatnya apa. Telaahnya sering agak memutar, rumusannya sering tak pasti, tapi ia memberi kita wawasan untuk berpikir serta memutuskan pilihan sendiri. Demikianlah terapi yang mendewasakan kita dalam beragama.

*[Ust. Salim A. Fillah]*
Apa Yang Didapatkan?

Apa Yang Didapatkan?

Hadits:

وعن أبي يَزيدَ مَعْنِ بنِ يَزيدَ بنِ الأخنسِ - رضي الله عنهم - ، وهو وأبوه وَجَدُّه صحابيُّون ،
قَالَ : كَانَ أبي يَزيدُ أخْرَجَ دَنَانِيرَ يَتَصَدَّقُ بِهَا ، فَوَضعَهَا عِنْدَ رَجُلٍ في الْمَسْجِدِ ، فَجِئْتُ فأَخذْتُها فَأَتَيْتُهُ بِهَا.
فقالَ : واللهِ ، مَا إيَّاكَ أرَدْتُ ، فَخَاصَمْتُهُ إِلى رسولِ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - ،
فقَالَ : ( لكَ مَا نَوَيْتَ يَا يزيدُ ، ولَكَ ما أخَذْتَ يَا مَعْنُ )
رواهُ البخاريُّ .

Artinya:
Dari Abu Yazid yaitu Ma'an bin Yazid bin Akhnas radhiallahu 'anhum. Ia, ayahnya dan neneknya adalah termasuk golongan sahabat semua.

Kata saya: "Ayahku, yaitu Yazid mengeluarkan beberapa dinar yang dengannya ia bersedekah, lalu dinar-dinar itu ia letakkan di sisi seseorang di dalam masjid.

Saya - yakni Ma'an anak Yazid - datang untuk mengambilnya, kemudian saya menemui ayahku dengan dinar-dinar tadi.

Ayah berkata: "Demi Allah, bukan engkau yang kukehendaki - untuk diberi sedekah itu."

_
Selanjutnya hal itu saya adukan kepada Rasulullah s.a.w., lalu beliau bersabda:

"Bagimu adalah apa yang engkau niatkan hai Yazid – yakni bahawa  engkau telah memperolehi pahala sesuai dengan niat sedekahmu itu - sedang bagimu adalah apa yang engkau ambil, hai Ma'an - yakni bahwa engkau boleh terus memiliki dinar-dinar tersebut, karena juga sudah diizinkan oleh orang yang ada di masjid, yang dimaksudkan oleh Yazid tadi." (Riwayat Bukhari)


https://www.manis.id



















Anda sulit untuk menemukan teman?

Anda sulit untuk menemukan teman?

bismillahirahmanirahim

untuk mengatasi ketidaksupelan dalam pergaulan karena pendiam dan susah akrab dengan orang lain ada beberapa yang bisa dilakukan :

1. Awali pergaulan dengan selalu berpikir positif.
Setiap bergaul, awali dengan selalu berpikir positif. Biasanya perasaan malu dan rendah diri dalam bergaul disebabkan karena kekhawatiran bahwa orang lain akan menolak atau mencemooh apa yang ada pada diri kita. Nah.. disini diperlukan pentingnya berpikir positif. Belum tentu orang lain akan menolak atau mencemooh kita. Jangan cepat mengambil kesimpulan negatif. Lebih baik yakinkan diri dengan berkata dalam hati “orang lain pasti menyenangi dan setuju dengan apa yang akan saya lakukan”. Jika pun setelah kita melakukan sesuatu dan ternyata kekuatiran Anda terbukti berupa ketidaksetujuan orang lain, maka Anda dapat menghibur diri dengan mengatakan “Ah, orang lain belum mengerti maksud saya. Saya harus memperbaiki caranya agar mereka lebih mengerti”. Jadi terus meneruslah berpikir positif (bersangka baik) kepada orang lain. Jangan masukkan pikiran negatif (sangka buruk) kepada orang lain. Sebab biasanya dari 1000 pikiran negatif kita yang benar itu hanya 1. Jika pun pikiran negatif kita terbukti, maka jadikan hal tersebut sebagai cara untuk belajar sabar.

2. Yakin bahwa setiap orang sudah cukup sibuk dengan dirinya masing-masing.
Orang yang susah bergaul biasanya merasa bahwa orang lain selalu memperhatikan secara detail tentang dirinya, sehingga ia menjadi takut berbuat salah. Padahal setiap orang sesungguhnya sibuk dengan dirinya masing-masing dan tidak cukup peduli untuk memperhatikan urusan kita secara detail. Oleh karena itu mengapa kita begitu takut untuk berbuat salah, padahal orang lain belum tentu memperhatikan kesalahan kita tersebut? Jika pun mereka mengetahuinya, apakah mereka memikirkannya, seperti kita yang memikirkan kesalahan kita secara mendalam dan dalam waktu yang lama? Lagipula tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Ingat! Bulan begitu indah dipandang hanya karena permukaan bulan ternyata penuh dengan tekstur yang tidak rata/sempurna.

3. Bersikap ramah dan sopan
Agar diterima dalam pergaulan, maka kita terlebih dahulu perlu menerima kehadiran orang di sekeliling kita. Kita harus membuka diri untuk menyambut orang-orang di sekeliling kita. Jangan terlalu kaku. Santai saja dan sambut mereka dengan mudah tersenyum kepada siapa saja. Jangan khawatir dianggap ‘murahan’ jika tersenyum dan ramah kepada orang lain. Yang penting kita tetap berlaku sopan dengan tidak memandang atau melakukan sentuhan yang dianggap “kurang ajar” oleh orang lain. Dalam berbicara juga pilih kata-kata yang tidak menyakitkan orang lain. Termasuk juga tidak mudah mencela atau mengeluarkan kata-kata yang kotor.

4. Selalu empati.
Sebenarnya inilah prinsip utama pergaulan. Jika kita ingin memiliki teman sejati dalam suka dan duka, maka bersikap empati merupakan hal yang mesti dilakukan. Empati adalah merasakan apa yang dirasakan orang lain. Kata kuncinya adalah tidak sibuk dengan perasaan sendiri. Selami perasaan orang lain dengan membayangkan jika Anda yang mengalami apa yang dialami oleh lawan bicara Anda. Empati juga perlu ditindaklanjuti dengan menolong orang lain. Karena dengan menolong orang lain bukan hanya kita akan disukai dalam pergaulan, tapi juga membuat kita bahagia.

dikutip dari Eramuslim.com
mengatasi rasa tidak percaya diri

mengatasi rasa tidak percaya diri

bismillahirahmanirahim

jika Anda merasa tidak percaya diri dengan potensi Anda, maka atasi hambatan tersebut dengan :

1. Yakini bahwa Allah SWT ingin agar kita berprestasi dahsyat dalam hidup ini. Allah tidak ingin hamba-Nya tampil “biasa-biasa saja” dalam hidup ini. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At Tin : 4). Manusia adalah makhluk yang spesial dan sudah dianugerahi Allah potensi dahsyat dalam dirinya. Manusia yang mengeborasi potensinya menjadi prestasi dahsyat adalah manusia yang bersyukur. Sebaliknya, manusia yang ‘mendiamkan’ potensi dahsayatnya adalah manusia yang ingkar (kufur) terhadap nikmat Allah. Maukah Anda disebut sebagai manusia yang kufur (nikmat)? Tentu tidak mau khan? Karena itu mau tidak mau Anda harus melejitkan potensi Anda sebagai tanda bersyukur kepada Allah SWT.

2. Yakini bahwa hidup adalah ujian untuk berprestasi. Allah SWT berfirman, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al Mulk : 2). Yang dimaksud ‘yang lebih baik amalnya’ adalah yang paling berprestasi. Oleh karena itu, orang yang tidak berprestasi berarti ia gagal menjalani ujian di dunia ini. Ia gagal menjadi ciptaan Allah yang baik. Ibarat produk pabrik, ia gagal menjadi produk yang baik, sehingga menjadi barang rusak yang tidak layak dijual di pasaran. Begitulah manusia yang puas dan merasa nyaman dengan kondisi dirinya apa adanya. Tidak berada di 'pasar' dunia (sebenarnya tidak layah hidup). Allah mengecam orang semacam itu dengan kecaman yang keras. “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS. Al Araf : 179). Jadi saudaraku, hidup hanya sekali dan dia adalah ujian penentuan untuk hidup selama-lamanya di akhirat. Apakah kita mau menyia-nyiakan hidup ini dengan tidak mau berjuang agar lulus ujian Allah SWT? Sebab bagi mereka yang tidak lulus ujian Allah, maka ia akan merugi selama-lamanya karena menjadi penghuni neraka jahannam. Jadi semestinya kita memahami ayat-ayat tentang amal bukan hanya dalam pengertian menjauhi dosa (maksiat) saja, tapi juga keinginan Allah SWT agar kita berprstasi dahsyat di dunia ini. Inilah yang dipahami oleh para sahabat ra dan para ulama kita terdahulu (salaf), sehingga mereka berprestasi dahsyat di dunia ini.

3. Lakukan penumbuhan kepercayaan diri secara berangsur-angsur, jika Anda tidak bisa berubah seketika.

Dikutip dari : eramuslim.com
dengan beberapa perubahan
Hikmah di tempat magang

Hikmah di tempat magang

Assalamualaikum,
Apa kabar sahabat? Sudah membaca surah Al-Kahfi di jum'at berkah ini? Di hari libur ini saya ingin "coret-coret" lagi nih di blog ini.

Pada coretan kali ini saya ingin mengenang masa yang sebut "pangkal dari nasib saya saat ini". Tidak ada yang istimewa sebenarnya, namun enam bulan itu terasa penuh makna. Saat itu saya masih kelas 2 SMK semester genap dan sedang dalam masa Prakerin (Praktek Kerja Industri) atau disebut juga dengan istilah magang, sialnya saya mendapat tempat magang yang sangat tidak cocok dengan bidang saya. Hampir tidak ada yang bisa saya kerjakan di sana kecuali sesekali mengetik surat dan mengganti tinta printer. Hari demi hari di sana saya lalui dengan rasa frustasi, di saat teman-teman yang lain mendapat pengalaman luar biasa di tempatnya masing-masing saya malah terlarut dalam rasa penyesalan luar biasa. Jadi disinilah pangkal dari ketidak jelasan hidup saya saat ini karena saya gagal memanfaatkan moment magang menjadi "sesuatu" untuk kehidupan saya.

Tentu saat itu saya tidak berdiam diri saja dengan rasa frustasi, saya dengar ada teman yang diperbolehkan pindah tempat magang dikarenakan tempatnya tidak cocok dengan bidang yang ia geluti. Maka saya bersama teman seperjuangan saya di sana berinisiatif melobi guru yang menjadi monitoring kami di tempat magang itu, hampir setiap waktu kosong kami gunakan untuk datang ke sekolah melobi sang guru. Dalam masa pelobian itu saya juga tak lupa menggiatkan untuk berdo'a kepada Allah ta'ala agar merubah kondisi ini. Di SMK saya memang sedikit demi sedikit telah dekat dengan mesjid dan mushalla berkat bergabungnya saya di ekskul Rohis.

Masa penantian yang panjang dan tidak jelas membuat kami mulai melakukan hal-hal yang tidak jelas. Mulai dari main PS, menghabiskan banyak waktu di warnet hingga saya "mengotori" fikiran frustasi teman saya dengan "gulungan nikotin penuh racun". ya, meski sudah ikut Rohis sejak kelas 1 tapi saya masih belum bisa menghentikan kebiasaan itu, saya bahkan menjerumuskan orang lain ke lembah yang sama.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya saat itu datang juga. Sang guru memberi keputusan atas nasib kami, hal yang sangat mengejutkan dan menjatuhkan mental karena sang guru menolak memindahkan kami ke tempat magang lain yang lebih sesuai, beliau malah meminta kami bertahan di tempat itu. Saya sedih, frustasi semakin tak terkira, waktu semakin terasa tak bermakna. Tak ada lagi tempat mengadu, kami tak bisa lagi berharap pada sang ibu guru. Akhirnya saya teringat kepada Allah, kemanakah lagi tempat mengadu yang lebih baik selain kepada-Nya?

Tak terasa memang di masa-masa penantian itu saya jadi semakin sering shalat berjama'ah di mesjid, saya ikuti pengajian di sebuah mesjid kampus yang membuat saya sadar akan kebiasaan itu. Niat awalnya hanya ingin bermunanjat, mengadu dan mengisi waktu dengan sesuatu yang lebih bermanfaat. Sebuah nikmat tak terkira saya menjadi lebih dekat kepada-Nya. Tak semua orang dapat merasakan nikmat ini, nikmat manakah yang lebih dahsyat selain mampu berdekatan dengan Allah? Dunia dan seluruh isinya bahkan tidak sebanding dengan ini. Kemudian saya berhasil menjalankan shalat fardhu 5 waktu dengan berjama'ah di mesjid, tidak sulit bagi saya karena sebelumnya sedikit demi sedikit saya sudah mulai mengakrabkan diri dengan mesjid. Selain itu saya juga sudah benar-benar menghentikan kebiasaan merokok seiring keluarnya fatwa haram dari para Ulama, memang prosesnya tidak sebentar, namun dengan kesungguhan dan kemauan untuk meninggalkan lingkungan yang berpengaruh buruk akhirnya saya berhasil lepas.

Allah meninggikan derajat orang-orang yang menolong (agama) Nya (QS Muhammad:7). Saya selalu berjalan kaki untuk menunaikan shalat fardhu di mesjid, Rasulullah Saw. telah mengatakan bahwa setiap langkah kaki kita menuju mesjid setelah berwudhu dihitung sebagai rahmat dan ampunan. Selain itu dengan berjalan kaki saya juga jadi bisa menyempatkan diri menyapa para tetangga yang sebelumnya hampir tidak pernah saya sapa, bahkan ada diatara mereka yang tak mengenali saya. Sesekali jika kondisinya mendukung, saya juga mengajak teman sebaya untuk menuju mesjid. Alhamdulillah kebiasaan ini jadi memperbaiki image saya di mata masyarakat. "Derajat" itu kini sudah menjadi lebih baik. "Derajat" itu juga terbawa hingga ke kampus, meski dengan skill dibidang yang sama masih pas-pasan, namun saya setidaknya masih bisa memelihara asa hingga saat ini, ajaran agama itu menuntun saya bahwa putus asa itu hanyalah milik orang-orang kafir.

Demikian, semoga dapat diambil hikmahnya, Allah memberi yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Allah lebih tau apa yang terbaik untuk kita :)





Teori "1000" dalam mencari jodoh

Teori "1000" dalam mencari jodoh

Dalam menentukan pilihan kekasih halal yang kita damba, ada baiknya kita memakai TEORI 1000- nya Buya Hamka...

Buya Hamka mengibaratkan kekayaan, keturunan, kecantikan dan ketampanan dengan angka nol, sedangkan kualitas agama dengan angka satu...

Berapapun banyaknya, angka nol tidak akan bernilai tanpa adanya angka satu..

Sebaliknya, sekalipun tidak ada angka nol, angka satu sudah memberikan nilai...

Siapapun diri kita tentu menginginkan pasangan dengan kualitas angka 1000.

Namun... Tatkala segala daya upaya telah kita lalui, sedangkan calon pun tak pasti, angka 10,100 bahkan 1000 tak kunjung kita miliki, maka andai ada yang memiliki kualitas 1 dan siap mengarungi bahtera dengan kita, tak ada salahnya kita memohon petunjuk pada Illahi....

Boleh jadi Allah menghendaki kita berjodoh dengan dirinya, meski nilainya 1 sungguh itu jauh lebih berarti daripada angka 000 yang tak kan kekal abadi...
Semoga bermanfaat :)
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
FAIDAH HADITS (08) DEMONSTRASI & MENYEBARKAN AIB PEMERINTAH ADALAH CARA YANG SALAH DALAM MENASIHATI PENGUASA YANG MUSLIM

FAIDAH HADITS (08) DEMONSTRASI & MENYEBARKAN AIB PEMERINTAH ADALAH CARA YANG SALAH DALAM MENASIHATI PENGUASA YANG MUSLIM

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلا يُبْدِهِ عَلانِيَةً وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُوا بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ
"Siapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia tampakkan terang-terangan. Tapi hendaklah ia meraih tangannya, lalu menyepi dengannya. Jika nasihatnya diterima, maka itulah yang diinginkan. Jika tidak, maka ia telah melaksanakan kewajiban." [HR. Ahmad & Ibnu Abi 'Ashim dari 'Iyadh bin Ganm radhiyallahu'anhu, Zhilalul Jannah: 1096]
Praktek sahabat,
قِيلَ لأُسَامَةَ لَوْ أَتَيْتَ فُلاَنًا فَكَلَّمْتَهُ قَالَ إِنَّكُمْ لَتَرَوْنَ أَنِّي لاَ أُكَلِّمُهُ إِلاَّ أُسْمِعُكُمْ إِنِّي أُكُلِّمُهُ فِي السِّرِّ دُونَ أَنْ أَفْتَحَ بَابًا لاَ أَكُونُ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ
"Dikatakan kepada Usamah, "Kalau sekiranya engkau datangi fulan (Utsman bin Affan radhiyallahu'anhu) untuk menasihatinya?" Usamah menjawab, "Kalian mengira aku tidak menasihatinya, kecuali harus kalian tahu?! Sungguh aku telah menasihatinya secara diam-diam, tanpa membuka pintu bencana yang semoga bukan aku yang pertama membukanya." [Muttafaqun'alaihi dari Abu Wa'il radhiyallahu'anhu]
Dampak Buruk Demonstrasi:
• Provokasi memberontak & memecah persatuan (Fathul Bari, 13/51-52)
• Ghibah (Umdatul Qaari, 22/33)
• Masyarakat jadi tidak taat kpd penguasa dalam hal yang baik (Haqqur Ro'i: 27)
• Permusuhan antara pemimpin & rakyat (Al-Ajwibah Al-Mufidah: 99)
• Sebab ditolaknya nasihat oleh penguasa (Fathul Bari, 13/52)
• Tumpahnya darah seorang muslim (Syarah Muslim, 18/118)
• Munculnya riya' (Madarikun Nazhor, hal.211)
• Mengganggu ketertiban umum
• Menimbulkan kemacetan
• Mengganggu stabilitas ekonomi
• Ikhtilat
• Menentang pesan Nabi shallallahu'alaihi wa sallam
• Mengikuti Jalan Khawarij
• Tasyabbuh kpd orang kafir.
www.nasihatonline.wordpress.com
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone


Kenapa Valentine harus dihindari?

Kenapa Valentine harus dihindari?

Alhamdulillah, setiap tahunnya saya tidak pernah ketinggalan berkonstribusi membuka fikiran umat tentang bahaya Ghozwul fikri seperti Valentine ini. Teringat pada jaman sekolah dulu kami selalu membuat aksi menolak Valentine di jalanan protokol kota Pekanbaru. Ingin sekali mengulang masa-masa indah itu.
Baiklah, saya tidak akan membahas mengenai dalil-dalilnya lagi. Toh sudah saya bahas dulu. Silahkan dilihat di daftar tulisan saya tahun-tahun yang lalu mengenai Valentine ini. Kali ini saya hanya membahas secara lebih ringan dari segi dampaknya.
Ketika membahas soal larangan merayakan Valentine, orang-orang biasanya akan balik berkata. "Ah itu kan cuma sejarahnya saja. Yang penting itu manfaatnya, kita bisa saling mengasihi di hari itu. Apa salahnya merayakan hari yang penuh cinta?" Atau mungkin ada yang berkata "Valentine emang dari barat, tapi kalau positiv, boleh dong kita ambil?"
Hmm.. Sekilas memang indah melihat orang-orang kemudian menunjukkan rasa cintanya. Tapi satu hal yang mesti kita perhatikan. Bahwa cinta yang kita lihat di hari Valentine itu adalah cinta yang semu, cinta yang hanya dijadikan sampul pembungkus maksiat. Faktanya, yang merayakan Valentine itu sebagian besar adalah pasangan-pasangan pra-nikah yang lagi asik-asiknya menggombal. Sementara mereka yang hubungannya sudah hallal biasa-biasa aja tuh menanggapi Valentine, mereka kan sudah berkasih sayang setiap hari :)
Hari Valentine seakan menjadi kesempatan untuk melegalkan secara tidak langsung kegiatan-kegiatan maksiat mereka seperti halnya yang terjadi pada malam minggu yang sudah seperti tradisi sebagai "malam maksiat". Dahulu di kota kami setiap hari minggu (setelah malam maksiat itu) selalu saja ditemukan kondom dan celana dalam di daerah taman kota yang memang menjadi arena maksiat. Dan fakta itu terjadi pula pada hari Valentine, secara mencengangkan angka penjualan kondom menjadi naik drastis, berkali-kali lipat bahkan sampai ludes. Apalagi coba kalau bukan untuk berzina?
Naudzubillahi min dzalik.. Sungguh mengerikan serangan Ghozwul fikri lewat Valentines's day ini. Satu hal yang perlu di catat, nilai-nilai positiv (hikmah) memang boleh kita ambil darimana saja termasuk dari barat, Rasul Saw. Bahkan pernah berujar bahwa "hikmah itu adalah milik kaum muslimin yang tertinggal. Dimanapun engkau menemukannya maka ambillah." Namun kita perlu ekstra hati-hati dalam mengambil sebuah nilai positiv dari barat, perlu filter yang berlapis-lapis untuk menyaringnya, karena begitu banyaknya kebobrokan dalam peradaban barat. Filter yang utama tentunya pengetahuan yang mendalam akan ilmu agama. Jika kita sudah memiliki filter itu, tentu kita akan serentak mengatakan:
"Valentine bukanlah budaya positiv!"
"Jauhi hari Valentine!"

Wallahu 'alam bishawab..
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone






Serangan halus Pemikiran Liberal

Serangan halus Pemikiran Liberal

1. pemikiran liberal ciri-cirinya | mendewakan apa yang mereka anggap sebagai 'isi' dan menyepelekan apa yang mereka anggap 'kulit'
2. liberalis menjauhkan Muslim dengan menyepelekan 'kulit' dan menekankan 'isi' | sekilas terlihat masuk akal, sejatinya sesat
3. "nggak penting kerudung-jilbabnya (kulitnya), yang penting baik (isinya)" | ini contoh pemikiran liberal
4. "nggak penting syariatnya (kulitnya), yang penting hasilnya (isinya) | ini pun contoh pemikiran liberal
5. "nggak penting shalat (kulitnya), yang penting ingat Allah (isinya)" | sama, inipun pemikiran liberal
6. "nggak masalah apapun agamanya (kulitnya), semua agama ajarin baik kok (isinya)" | contoh lagi pemikiran liberal
7. "syariat nggak perlu harus sesuai Rasulullah (kulitnya), zaman sudah berubah harus sesuaikan fakta (isinya)" | ini pun sama liberalnya
8. pemikiran liberal tanpa sadar menyusup dalam darah kita | mengalir deras seolah-olah itu adalah ide-ide Islam
9. karenanya perlu kita sampaikan konsep "amal yang diterima" dalam Islam | agar selamat dari pemikiran liberal
10. dalam Islam amal diterima bila mencakup 2 hal | 1) niat yang ikhlas karena Allah (bukan yang lain) dan 2) cara yang sesuai syar'i
11. dalam kajian lebih lanjut | disebut dengan fikrah (konsep/isi), thariqah (metode/kulit) dan uslub (cara)
12. maka dalam shalat | maka niat lillahi ta'ala adalah fikrah (konsep/isinya), sedang gerakan shalat adalah thariqah (metode/kulitnya)
13. dalam Islam niat (fikrah/konsep/isinya) harus karena Allah | dan cara (thariqah/metode/kulitnya) juga harus sesuai Allah
14. karenanya di dalam Al-Qur'an | setiap kata-kata "aamanu" (beriman) seringkali digandeng dengan "wa amilush shalihah" (beramal shalih)
15. niat yang ikhlas tanpa cara yang benar tiada pahala | sama sebagaimana cara yang benar tapi dilakukan niat riya
16. sedangkan uslub (cara) | maka ini bisa berbeda, bisa berubah, tergantung tempat, zaman, teknologi dan sebagainya
17. jadi bukan berarti Islam menolak modernisasi | namun Islam menolak liberalisasi
18. dalam dakwah contohnya | niat (fikrah) harus ikhlas, metode (thariqah) sesuai nabi, mengenai cara (uslub) bisa via ceramah, twitter dll
19. jadi Islam mewajibkan kita terikat pada fikrah dan thariqah | namun boleh berkreasi dalam uslub
20. misal hijab | ya mesti sesuai niat (ikhlas) dan bentuknya sesuai syariat (jilbab-khimar) | adapun uslub, misal jenis kain, boleh kreasi
21. jadi Islam bukan hanya asal intinya, kulitnya pun penting | bukan hanya asal hasilnya, prosesnya pun dihisab
22. bahkan pada banyak hal | Allah dan Rasul meminta kita fokus pada proses | bukan pada hasilnya
23. sama dalam perkara penegakan syariat Islam | hasil bukan satu-satunya hal penting | namun prosesnya pun tak kalah penting
24. kita ditolong Allah bukan karena seberapa banyak ibadah yang kita lakukan | namun dari seberapa kecil dosa yang kita hindarkan
25. jangan tertipu liberalis yang mencoba menjauhkan Muslim dari Allah | dengan logika manis namun sesat, logis namun maksiat
26. cukup bagi kita konsep Islam, dan metode Islam | kita Islam karenanya "kulit" kita Islam dan "isi" kita Islam
27. maafkan kami, sepertinya kami terlalu kagum dengan Islam | hingga tak sanggup membanggakan lain ide selain Islam
by: Ustad Felix Siauw
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Hadits tentang Taqwa

Hadits tentang Taqwa

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah membuatkan baginya jalan keluar dari segala kesulitan, kelapangan, dari segala kesedihan, dan Allah akan menganugerahkan rezeki kepadanya dari arah yang tidak ia duga".[HR. Abu Dawud].

"Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw, lalu berkata, "Hai Muhammad, hiduplah sesukamu namun engkau pasti mati. Berbuatlah sesukamu namun engkau pasti akan diganjar, dan cintailah siapa yang engkau sukai namun pasti engkau akan berpisah dengannya. Ketahuilah, kemuliaan seorang mukmin tergantung shalat malamnya dan kehormatannya tergantung dari ketidakbutuhannya kepada orang lain." (HR. Ath-Thabrani)
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Posting perdana tahun 2013

Posting perdana tahun 2013

Dari Al-Hasan, pada waktu pernikahan 'Aqil bin Abi Thalib nikah dengan seorang wanita dari Jasyam, para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah yaitu, "Birafa' Wal Banin" (semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak).
Kemudian Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata : "Janganlah kalian ucapkan demikian . Karena Rasulullah shallallhu 'alaihi wa sallam melarang ucapan demikian". Para tamu bertanya :"Lalu apa yang harus kami ucapkan?". Aqil menjelaskan :"Ucapkanlah : Barakallahu lakum wa Baraka 'Alaiykum". Demikianlah ucapan yang diperintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam".

[Hadits Shahih Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Darimi 2:134, Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad 3:451, dan lain-lain].
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Preview buku "Penjaga Jalan Ke Mesjid"

bismillahirahmanirahim

Alhamdulillah akhirnya buku pertama saya sudah dicetak dan dipublikasikan. buku ini saya tulis saat liburan semester genap yang lalu. dengan waktu luang yang begitu banyak, Alhamdulillah buku ini dapat terselesaikan dengan cepat. Buku ini berisi 12 cerpen islami yang sebagiannya terilhami oleh kehidupan pribadi penulis. Mungkin isi buku ini masih sangat sederhana. Maklum saja, penulisnya hanyalah penulis pemula yang bermodalkan kebiasaan "ngomel" di blog selama hampir 5 tahun dengan traffic blog yang tidak terlalu istimewa. namun insyaAllah, buku ini banyak berisi nilai-nilai moral dan tema yang mungkin jarang diangkat. sehingga tidak rugi untuk membeli dan membacanya.

Penjaga Jalan Ke Mesjid


Cover buku yang direncanakan sebenarnya yang ini.



Namun dikarenakan masalah koneksi maka dipakai saja cover yang sudah terlanjur di pakai ini.


sample bukunya dapat dilihat di sini

bukunya dapat diorder di sini


Trust – Kepercayaan

Trust – Kepercayaan

bismillahirahmanirahim

  Ada satu hal yang merupakan kunci dari dakwah yang berhasil, Trust – Kepercayaan. Yang bila hal ini ada pada orang yang kita dakwahi, insya Allah mereka akan menerima dengan lebih mudah, lebih segera dan tentunya lebih bertahan lama.

     Seseorang menerima dakwah kita karena dia percaya kepada kita, bukan sebaliknya. Jangankan kepada sesuatu yang benar, sesuatu yang salah pun akan diterima seandainya orang sudah percaya.

        Efek dari kepercayaan juga sangat luar biasa, suatu perkataan atau perbuatan terasa lebih mudah diterima apabila sudah ada kepercayaan.





    Mungkin biasa saja apabila kita mengatakan di depan publik “sesungguhnya yang paling baik diantara laki-laki adalah yang paling baik kepada istri-istrinya”. Namun apabila kita tambahkan “Rasulullah bersabda: sesungguhnya yang paling baik diantara laki-laki adalah yang paling baik kepada istri-istrinya” maka efeknya akan lain. Itu karena Rasulullah dipercaya.

          Saking pentingnya isu kepercayaan ini, Allah pun menunjukkan pada kita bahwa Dia memilih Muhammad saw salah satunya adalah karena beliau bergelar Al-Amin (yang dapat dipercaya) bahkan jauh sebelum beliau Muhammad saw diangkat menjadi Nabi dan Rasul.

Lalu apa yang mempengarhi kepercayaan seseorang pada kita? Simak dulu yang dibawah ini


1. Reputasi dan Referensi
 Jelas lebih mudah mempercayai seseorang yang telah memiliki reputasi (brand image). Reputasi atau brand image kita adalah segala sesuatu nilai yang terbersit pada audiens ketika mendengar atau melihat kita. Dan efek terhadap kepercayaan sangat besar sekali.

Hal ini juga berkaitan dengan referensi. Semakin banyak seseorang mendengar kita dari teman atau lingkungannya, semakin mudah pula dia mempercayai kita.

Maka reputasi & referensi tidak dibangun dalam semalam. Ia adalah akumulasi dari setiap amal kita di dunia kita, yang menumpuk dalam waktu yang lama dan membentuk brand image.

Reputasi & referensi juga terkait erat dengan cara berpenampilan yang konsisten dan rapi. Ingat bahwa manusia cenderung melihat fisik dan menilai seseorang dari 30 detik pertama

Membangun reputasi dan referensi memerlukan 1 kata, konsistensi. Siapa yang konsisten dengan satu perbuatan, maka pasti akan melahirkan reputasi. Misal, bila menyebut dzikir kita akan ingat Arifin Ilham, sedekah ingat Yusuf Mansur, Khilafah ingat Hizbut Tahrir, dan sebagainya.

Membentuk reputasi & referensi tidak mungkin dalam waktu singkat. Bila anda mau instan, lupakan saja. Orang akan mengingat anda karena konsistensi, bukan perilaku oportunis.

Bila reputasi telah terbentuk, referensi akan datang dengan sendirinya, dan rasakan begitu mudah berdakwah bila seseorang telah percaya pada kita.

2. Satu Perahu
Selain itu kepercayaan juga akan muncul apabila kita dan audiens merasa ‘satu perahu’. Seorang Muslim tentunya akan merasa lebih nyaman dan percaya dengan Muslim yang lain ketimbang yang non-Muslim. Begitu pula kesamaan membuat kepercayaan.
Satu bahasa menimbulkan kepercayaan, satu agama menimbulkan kepercayaan, satu nasib menimbulkan kepercayaan, bahkan satu klub bola menimbulkan kepercayaan.
Maka ketika kita berdakwah, pastika kita berada ‘satu perahu’ dengan audiens. Sehingga kita bukan terkesan ‘menggurui’ atau ‘digurui’, tapi berada dalam posisi yang sama. Bersebelahan duduk dan berbagi kesulitan serta kesenangan.

3. Keahlian (Expertise)
Ada satu hal yang sering dilupakan oleh pengemban dakwah, bahwa kepercayaan tidak dibangun dengan cara yang manipulatif (tipuan) dan artifisial (buatan). Kepercayaan memang dapat dimanipulasi, namun tidak akan bertahan lama, dan kecewa lebih besar akan terjadi bila kepercayaan dimanipulasi
Kebanyakan yang terjadi sekarang, pengemban dakwah terlalu ‘membesar-besarkan’ dirinya. Bertindak tak sesuai dengan maqam dan keahliannya, berbicara tsartsarah (melebih-lebihkan). Padahal keahliannya belum samasekali sampai disana.


Kepercayaan bisa dimanipulasi dengan hal seperti itu, namun yang mengekalkan kepercayaan adalah expertise (keahlian) yang tanpanya perbuatan dan perkataan hanya jadi omong kosong.
Maka bila kita ingin dipercaya, jadilah ahli dibidang kita. Rajin mengumpulkan tsaqafah dengan membaca, menulis dan menyampaikan adalah ciri pengemban dakwah. Jangan malas menjadi ahli bila ingin dipercaya.
Coba pikir, pilih mana, disuntik orang yang bergelar Dr (Dokter), atau disuntik orang bergelar DrH (Dokter Hewan)?

Keahlian bisa saja dicapai melalui pendidikan formal, namun jalur non-formal juga tidak kalah banyaknya dan melahirkan orang-orang yang tidak kalah hebatnya.

Masih banyak lagi hal yang bisa membuat orang percaya dengan kita, salahsatunya kedekatan kita dengan Allah yang akan kita bahas dalam sesi khusus.

Silahkan temukan sendiri dan bangun brand image kita. Selain itu bijaksanalah dan dekatlah secara emosional dengan mad’u. Ingat pula yang terpenting untuk menjadi ahli pada bidangnya. Dan bersabarlah dalam melakukannya, mudah-mudahan kita lebih mudah berdakwah. Mecca wasn’t build in days – Neither Rome won’t be conquered in days.


Felix Siauw
Antara Berpacaran dengan Menyegerakan Menikah

Antara Berpacaran dengan Menyegerakan Menikah

 Pemuda itu menangis tersedu-sedu di samping mihrab mesjid. Mushaf ia dekap erat-kuat ke dadanya. Sesekali ia me-lap air mata yang meleleh. Ia merasa begitu rapuh dan lemah. Begitu tak berdaya menghadapi
seorang wanita. Ia telah tergila-gila pada wanita itu. Senyuman wanita itu bagai purnama di gelap gulita malam. Suara wanita itu laksana nyanyian bidadariyang merasuk ke pori-pori jiwanya. Ia menangisi dirinya yang tak lagi bisa merasakan nikmatnya berzikir. Menangisi hatinya yang tak lagi bisa khusyuk dalam shalat. Menangisi pikirannya yang selalu membawanya terbang ke wanita itu. Oh,
sungguh hebat deritanya. Dulu ia begitu kokoh dan teguh. Orang-orang menganggapnya seorang laki-laki yang punya prinsip dan berkarakter. Apalagi saat orang-orang tahu dia begitu mampu menjaga hubungan dengan wanita, popularitas keshalehannnya semakin dikenal dan menjadi buah bibir. Itu dulu, namun kini ia begitu tak berdaya dan rapuh.

    Wanita itu betul-betul telah membuatnya terpikat. Seorang wanita yang dalam pandangannya begitu anggun dan sempurna. Cantik, manis, cerdas, hafal al- Qur`an, sopan dan lembut dan lain-lainya. Seorang
wanita yang menurutnya layak dijadikan pasangan hidup menuju sorga. Seorang wanita yang semua
kriteria calon istri dambaan ia temukan pada dirinya. Hampir tiap malam ia menangis. Jika dulu, ia menangis
di kegelapan malam karena dimabuk rindu pada Sang Pencipta, kini ia menangis karena dimabuk rindu pada makhluk-Nya. Apakah Allah tengah menguji dirinya. Apakah Allah tengah menguji kejujuran cintanya.
Ataukah memang sudah waktunya ia menikah. Ia teringat dengan pesan-pesan Ustadznya sebelum
berangkat ke Mesir dulu, pesan-pesan yang masih terekam kuat dalam memorinya. "Anakku, ketahuilah dalam perjalanmu menuntut ilmu nanti, kamu akan diuji dengan banyak hal, dengan
kesusahan hidup, kesulitan biaya, lingkungan, kawan-kawan, dan lainnya. Teguhkan selalu niat di hatimu dan
mintalah pertolongan pada Allah setiap waktu. Dan ingatlah, ujian terberat yang akan kamu hadapi nanti adalah wanita, maka berhati-hatilah menghadapi wanita. Jangan pernah mengikuti ajakan nafsu yang
menyesatkan." "Anakku, berpacaran yang saat ini banyak digandrungi anak-anak muda adalah sikap laki-laki bermental kerupuk dan pecundang dan tipe wanita yang tak punya harga diri, menjalin hubungan secara syar`i dan menikahi dengan cara-cara yang baik, itulah akhlak seorang laki-laki yang didamba dan sikap seorang wanita calon penghuni sorga. Bila godaan itu terasa berat bagimu, berpuasa tak sanggup mengobatimu, maka menikahlah, insya Allah itu lebih berkah dan mengantarkan pada kebaikan." "Anakku, jika kamu mengira berpacaran itu adalah jalan menuju pernikahan, maka engkau telah tertipu oleh nafsumu. Engkau telah termakan bujuk rayu setan durjana. Apakah engkau mau memetik buah dari pohon
sebelum waktunya? Apakah engkau mau membeli barang yang telah usang dan pernah dipakai orang?" 

"Anakku, janganlah engkau mengira, pacaran yang Ustadz maksud bertemu dan jalan berdua-duan semata,
tapi jagalah matamu, pendengaranmu, hatimu dan pikiranmu. Janganlah menjadi pemuda yang lemah.
Ingatlah, engkau adalah pemimpin, jangan biarkan hawa nafsu yang memimpinmu." "Jika suatu saat nanti, dorongan untuk menikah begitu kuat dan menyesak di dadamu, engkau merasa telah
siap, namun orang tua belum merestui dan ada jalan lain yang menghambat. Ustadz sarankan, bersabarlah,
bersabarlah, dan bersabarlah. Sembari terus mencoba dan berdoa tiada henti pada Allah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan ketahuilah, orang-orang yang sabar akan mendapatkan pahala
yang berlipat, dan orang-orang sabar akan memetik mutiara iman yang begitu banyak dalam kesabarannya
itu. Dan yakinlah sesungguhnya bersama satu kesulitan ada banyak kemudahan." "Anakku, jangalah engkau tergoda oleh nafsumu, janganlah engkau tertipu dengan bisikan musuhmu, setan durjana. Mungkin Allah tengah mengujimu, dan menyiapkan untukmu hadiah yang indah. Maka selalulah berbaik sangka pada Allah." Nasehat-nasehat berharga itu begitu mampu menjadi penawar bagi hatinya yang gelisah. Tapi, itu hanya
bertahan sebentar, ledakan perasaannya pada wanita itu ternyata lebih dahsyat dan meluap-luap. Pesan- pesan itu hanya bertahan sesaat

 lalu ketika desakan perasaan itu kembali merasuki jiwa, ia menjadi begitu rapuh dan lemah. Sampai pada akhirnya ia menelpon Ustadznya di Indonesia. Ia menceritakan kegelisahan hatinya,
keresahan jiwa, dan gejolak rasa yang selalu menyesak di dadanya. Ustadznya berpesan kembali, "Anakku, Ustadz bisa memahami keadaanmu, barangkali sudah waktunya bagimu untuk
menggenapkan setengah agamamu. Ustadz sarankan lakukanlah shalat istikharah, jika engkau menemukan
ada tanda-tanda ke arah sana, maka lakukanlah shalat hajat sebanyak-banyaknya, insya Allah, mudah- mudahan dengan cara demikian Allah membuka jalan untukmu. Mintalah pada Allah dengan air mata penuh
harap, menangislah sejadi-jadinya di hadapan Allah. Yakinlah, Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-
Nya." Satu tahun kemudian, sesudah kesabaran yang panjang, setelah menyelesaikan hafalan al-Qur`annya,
ia pun menggenapkan setengah agamanya di penghujung bulan Juni 2010. Ia sangat bahagia.
Kebahagiaan yang tak bisa dlukiskan dengan kata-kata. Ia telah menikah dengan wanita dambaannya, seorang wanita sorga yang Allah hadirkan ke bumi untuknya. Allah telah memilihkan untuknya seorang pendamping hidup yang mecintai Allah dan dirinya dengan sepenuh jiwa dan raga. Tak sia-sia selama ini ia menjaga dirinya dari tergelincir pada perbuatan yang haram. Ia sampaikan kerinduannya terhadap wanita itu pada Allah setiap malam, ia titipkan penjagaan untuk wanita itu pada Allah setiap saat. Ia hantarkan doa-doa penuh ketulusan untuk kebaikan dan keselamatan wanita itu selama ini. Dan kini, Allah mengizinkannya untuk
memetik buah kesabarannya selama ini. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan hamba yang berserah diri
pada-Nya.


Sumber: copas status facebook Ariez Zidane dengan seizin penulis 
Sent from my BlackBerry® 
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Keutamaan ilmu

Keutamaan ilmu

Ketika sahabat Ali bin Abi Thalib Ra ditanya tentang mana yang lebih utama antara ilmu dan harta, maka beliaupun menjawab:
*"ilmu lebih utama daripada harta, ilmu adalah pusaka para nabi, sedang harta adalah pusaka fir'aun dan Qarun"
*"ilmu lebih utama daripada harta, karena ilmu itu akan menjagamu sementara harta justru engkau yang harus menjaganya"
*"ilmu lebih utama daripada harta, karena pemilik harta bisa mengaku menjadi tuhan akibat harta yang dimilikinya, sedang orang berilmu justru mengaku sebagai hamba"
*"ilmu lebih utama daripada harta, karena di akhirat nanti pemilik harta akan dihisab, sementara pemilik ilmu akan memperoleh syafa'at."
*"harta itu jika engkau berikan bisa jadi akan berkurang, sebaliknya ilmu jika engkau berikan akan bertambah."
*"Pemilik harta itu musuhnya banyak, sedangkan pemilik ilmu temannya banyak."
*"harta akan hancur berantakan karena lama ditimbun zaman, sementara ilmu tak akan rusak dan musnah walau ditimbun zaman."
*" Harta membuat hati seseorang menjadi keras, sedangkan ilmu membuat hati menjadi bercahaya."
Saudaraku sekalian, segala sesuatunya harus dimulai dengan ilmu, yaitu pengetahuan atas baik atau buruknya dampak yang kita lakukan jika melakukan sesuatu, demikian juga saat kita ingin beramal atau beribadah. Dengan adanya ilmu sebelum amal, kita akan dijauhkan dari segala kesalahan-kesalahan maupun perbuatan bid'ah dalam beribadah.
Meski demikian, bukan berarti harta itu tidak penting atau tidak berharga. Malah tujuan kita menuntut ilmu salah satunya adalah untuk memperoleh harta. Dengan harta kita dapat memperbanyak amal sedekah kita, dengan harta kita dapat melengkapi rukun islam yang ke lima yaitu ibadah haji dan dengan harta pula kita dapat memperkuat kedudukan kita dan islam di muka bumi ini. Harta yang baik adalah harta yang barokah, untuk mendapatkan harta yang barokah dan membedakannya dengan yang tidak barokah tentu juga diperlukan ilmu. Jadi ilmu dulu baru amal dan harta, keduanya harus saling melengkapi. Karena ilmu yang tidak diterapkan maupun disampaikan juga akan menjadi alasan kita dimasukkan kedalam neraka.
Wallahu 'alam bishawab
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Share buku baca'an islami yang keren

Share buku baca'an islami yang keren

bismillahirahmanirahim
Assalamualaikum,

Kali ini saya mau share tentang buku bacaan islami nih. Sebelumnya saya ingin bertanya, sudah berapa banyakkah buku bacaan islami milik anda? Atau mungkin bagi yang sudah punya, apakah sudah anda baca semua? Hmm.. Bagi yang menjawab TIDAK! Baik itu yg tidak punya, maupun tidak mau membaca, semoga artikel ini dapat memberi sedikit solusi.

Sebagian besar kita, terutama anak muda mungkin mengeluhkan buku baca’an yang terlalu ‘berat’. Baik dari segi bahasanya, bahasan di dalamnya atau penyajiannya yang terasa menjenuhkan (sebenarnya tidak menjenuhkan jika kita punya semangat yang kuat untuk mempelajari agama) ada juga mungkin keluhan yang tidak pas lainnya.

Don’t worry be happy my friend. Saat ini sudah banyak kok para penulis islam yang sudah mengadaptasi bukunya untuk golongan2 masyarakat seperti kita yang butuh baca’an dengan penyajian ringan tapi memiliki memiliki ilmu yang luas.

Berikut saya pilihkan sedikit buku2 baca’an islami menarik yang berbobot dan mudah didapatkan di toko buku-toko buku dan gramedia terdekat.

1. Buku: Mutiara Hikmah2
Penulis: Syaiful Hadi El-sutha
Penerbit: Erlangga

2. Buku : Cinta Rasul kok gitu?
Penulis: Ust Subki Al-Bughury
Penerbit: Al-mawardi Prima

3. Buku: Bikin belajar selezat coklat
Penulis: Muhammad Fatan Ariful Ulum (fatan fantastic) dan Dinda Denis Prawitasandhi Putrantya (dinda Denniz)
Penerbit: Book magz Pro-U Media
*top quality/best seller

4. Buku: 100% Dakwah keren
Penulis: Shofwan Al-banna
Penerbit: Book Magz Pro-U Media

5. Buku: Bimbingan Nabi untuk Mengatasi 101 masalah
Penulis: Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. Dan Nur Kholis, M.Ag.,
Penerbit: Mizania

6. Buku: Cara asyik biar pintar
Penulis: Gina Al ilmi dan ILNA learning Center
Penerbit: Syaamil

Buku2 tersebut di atas sebagian besar sudah saya miliki (yang dua lagi cuma minjem hehe). Dan ilmunya alhamdulillah bermanfaat. Buku baca’an ini saya jamin insyaAllah sangat menarik untuk dibaca jika anda punya keinginan mempelajari islam dengan lebih dalam.

Segini dulu deh, ntar kalau ketemu buku lain yang bagus insyaAllah bakal saya share lagi
Wassalam :)

New version of The other side of Mr. Bean


bismillahirahmanirahim

Mr Bean. sebuah sosok yang selama ini kita kenal sebagai seorang yang sangat lucu, aneh, jahil, dan agak(maaf)bodoh dan kadang juga sering jahat sama orang, sering sial juga tentunya hee..he..

Akan tetapi, di samping semua hal di atas ternyata ada juga beberapa hal yang patut kita contoh dari sosok seorang Mr Bean, yaitu sebuah hal yang sebenarnya sangat sering kita lihat ia melakukannya namun kita sendiri sangat jarang melakukannya. yaitu kebersihan seorang Mr Bean. YA! Mr Bean tidak  pernah buang sampah sembarangan, saat melihat sampah ia selalu mencari tong sampah terdekat dan jika ia tdk menemukan tong sampah, maka ia menaruh sampah itu di sakunya untuk bila bertemu tong sampah di tempat lain ia baru membuang sampah itu ke tong sampah itu.  Ada lagi nih yg tidak kalah keren, Mr Bean itu tidak suka melihat atau melakukan hal-hal yang tidak senonoh. Padahal masyarakat eropa itu seperti kita ketahui kurang kenal tata krama, apalagi jika membahas tentang persoalan senonoh tidak  senonoh. Tapi dapat kita lihat saat Mr. Bean sedang belajar melukis, saat "di suguhi" wanita (maaf ) telanjang, ia langsung menutup matanya.

Namun di sini (Indonesia) masyarakat yang mengikuti akidah islam yang sangat melarang perbuatan tidak senonoh, justru melakukan hal yang sebaliknya.. 
Apa yang kita lakukan jika menghadapi hal seperti yang dihadapi Mr Bean di atas? jangankan nyari tong sampah, setelah memproduksi sampah saja kita langsung membuangnya sembarangan, tanpa melihat lagi kalau ada muka orang di lemparnya pake sampah(wah gawat tuh!) apa lagi jika melihat hal yang tidak senonoh, kita malah tambah melek dibuatnya, melotot lagi,,,astagfirullah hal adziim
so, sudahkah kita lebih baik bahkan dari seorang Mr Bean?? jawaban nya ada pada diri kita sendiri.(tapi ane gak nyuruh ngikutin semua perilaku Mr Bean yah, itu cuma salah satu contoh peradaban tinggi inggris yang membuat mereka seperti sekarang, dan terlihat sedikit di film Mr Bean) dan segeralah bertobat sebanyak2nya sobat!.

Al-islam mahjubun bil muslim.
"islam itu ditutupi oloeh umatnya(muslim yang ga mau ngikutin peraturan islam)-sungguh aku sulit menemukan islam di tengah-tengah kaum muslimin,sebaliknya aku sering menemukan islam di tengah-tengah orang-orang bukan muslim-
--Muhammad abduh
(tokoh islam abad 20-an)

Rock Vs Alay

picture by: facebooktrik.blogspot.com
bismillahirahmanirahim
Setelah sekian lama gak Update blog ini, akhirnya kangen juga, yah kalo bahasa Denmarknya "taragak juo" hehe..

kali ini saya akan membahas tentang fenomena musik yang terjadi di Indonesia khususnya di kalangan masyarakat muslim.

Baru" ini gw liat (ehm, with slenge'an style) ada program baru di salah satu Tv di Indonesia yang membahas salah satu gendre musik yang di anggap tebu, eh maksudnya 'tabu' bagi sebagian kawula muda, namanya Mtv Alay (yah ketahuan deh stasiun Tv-nya). Hal ini seakan menggelitik saya untuk segera memposting sesuatu di Blog saya.

Acara ini adalah refleksi dari "perselisihan terselubung" antara 2 gendre yg tertera di judul posting ini. ada yang menyebut musik Alay / melayu (dan musik" melouw lainnya) sebagai musik cengeng, berlebihan dan musik bagi orang" gak berpendidikan. Namun di sisi lain musik rock(dan keluarga"nya seperti musik heavy metal dsb.) disebut sebagai musik berisik dan bikin kepala pusing. Sambil memuji kelebihannya masing", melayu (maaf menggunakan salah satu suku di Indonesia, namun yg di maksud di sini adalah aliran musik yang sedang populer saat ini) menganggap skil mereka dari kemerduan suara dan Rock menganggap kelebihannya dari skill menggunakan alat musik dan ketinggian suara.