Kisah Mariah Al Qibtiah Istri Rasul Dari Mesir

Kisah Mariah Al Qibtiah Istri Rasul Dari Mesir

*SIROH & KELUARGA*
Pemateri: *Ustadzah Eko Yuliarti Siroj*
Mariyah lahir di kota Jafnin sebelah timur sungai Nil ke arah Asmuniyah. Kemudian ia pindah ke istana Muqauqis gubernur Mesir dan hari demi hari ia lalui di sana. Hari-hari yang tergadaikan.
Hingga suatu hari...datanglah Hatib bin Bi Balta'ah membawa surat dari Rasulullah Saw mengajak Muqauqis kepada Islam.
Bismillahirrahmanirrahiim
Dari Muhamad bin Abdillah hamba Allah dan rasulNya. Aku ingin mengajakmu dengan ajakan Islam. Masuk Islamlah maka kalian akan selamat. Allah akan memberikan pahala bagimu dua kali lipat. Jika engkau menolaknya maka engkau akan menanggung dosa orang Qibti semuanya.
"Katakanlah wahai ahlul kitab, marilah kita berpegang kepada satu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak menyekutukan sesuatu denganNya, sebagian kita tidak menjadikan yang lain sebagai tuhan selain Allah, bila mereka berpaling maka katakanlah "Saksikanlah bahwa kami berserah diri (kepada Allah)." (QS Ali Imran:94)
Mariyah seorang budak belian yang cantik mendengar isi surat tersebut yang membuat hatinya lapang. Fikiran dan jiwanya melayang membayangkan siapa orang yang mengirimkan kata-kata indah penuh makna itu. Jantungnya hampir berhenti berdetak ketika seorang pemuka mengatakan bahwa  ia bersama saudara kandungnya dipilih oleh kaisar untuk pergi ke Madinah sebagai hadiah untuk Rasulullah Saw. Bersamanya Muqauqis menyertakan emas permata, perhiasan yang indah serta madu asli yang sangat lezat. Ia menyambut perjalanan ini dengan penuh suka cita dengan kerinduan akan hidayah Allah.
Aku membaca suratmu dan memahami isinya. Aku mengetahui bahwa seorang nabi telah datang dan aku kira ia berasal dari daerah Syam. Aku telah memuliakan utusanmu dan mengutus untukmu dua orang sahaya yang memiliki kedudukan yang mulia di Qibty. Bersama dengan berbagai perbekalan yang dapat engkau manfaatkan. Semoga keselamatan atasmu. (Inilah surat balasan dari Muqauqis untuk Rasulullah Saw)
Saat rehat di perjalanan, Hatib bercerita kepada Mariyah tentang Rasulullah dan Islam serta bagaimana beliau sangat memuliakan manusia dan menjaga kehormatannya juga memperhatikan kebebasan beribadah.
Detak jantung Mariyah saling berbalapan saat perjalanan sudah mendekati Madinah. Nabi meminta Mariyah untuk tetap bersamanya dan menghadiahkan Sirin saudaranya kepada Hissan bin Tsabit.
Para istri Rasulullah menyambut kehadiran duta baru disertai rasa cemburu dalam hati mereka. Suatu pagi ummul mukminin Hafsah pergi ke rumah ayahnya. Tak lama kemudian ia kembali. Dan ternyata di dalam rumahnya Rasulullah sedang berbincang dengan Mariyah. Betapa marahnya Hafsah. Ia berkata:"Jika engkau tidak merendahkanku, tidak akan engkau ajak dia ke rumahku." Dan mulailah ia menangis. Rasulullah menenangkannya dengan mengatakan:"Sesungguhnya  Mariyah haram untukku." Beliau meminta Hafsah untuk tidak menceritakan peristiwa itu kepada siapapun. Namun Hafsah menceritakannya kepada Aisyah dan akhirnya semua istri Rasulullah melakukan unjuk rasa. Rasulullah sampai bersumpah untuk tidak menjumpai mereka selama satu bulan.
Dan tersiarlah kabar bahwa Rasulullah telah menceraikan istri-istrinya. Maka turunlah surat At-Tahrim ayat 1
  يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيم
"Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(QS At Tahrim:1)
Rasulullah Saw memindahkan Mariyah ke daerah aaliyah (tempat penyembelihan di Madinah) yang jauh dari istri-istrinya. Kemudian Mariyah hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ibrahim.
Kelahiran Ibrahim disambut gembira oleh Rasulullah Saw. Beliau mencarikan sebaik-baik kabilah untuk merawatnya dan memberikan berbagai hadiah kepadanya. Ketika Ibrahim berusia delapan belas bulan, ia jatuh sakit yang cukup parah. Ia dipindahkan ke sebuah kamar disamping masyrubah Ummu Ibrahim. Mariyah bersama saudaranya Sirin bergantian menjaganya. Setelah Rasulullah diberi kabar akan sakitnya Ibrahim beliau segera datang dan menggendongnya. Dengan berlinang air mata beliau menemani Ibrahim hingga menghembuskan nafas terakhirnya.
Rasulullah telah mewasiatkan kebaikan akan orang-orang Qibty. Beliau bersabda:"Akan dibebaskan Mesir setelah ini. Maka aku wasiatkan kepada kalian agar memperlakukan orang-orang Qibty dengan baik. Sesungguhnya mereka memiliki tanggungan dan sifat penyayang.
Wallahu a'lam bish showab
Sumber: Grup Manis














Bersalaman Dengan Kerabat Bukan Mahram

Bersalaman Dengan Kerabat Bukan Mahram

Ustadz Menjawab
Kamis, 13 April 2017
Ustadzah Dra Indra Asih
🌿🌺🍂 Bersalaman dgn Kerabat Bukan Mahram
                                                                       Assalamu'alaikum ustadz/ah...                   
Jika orang tua beranggapan bahwa setiap anggota keluarga atau kerabat dekat yg di ikat karena satu suku dengan kita(ortu dan anak2nya) tanpa ada garis keturunan yg sekandung(Mahram) dan mereka menganjurkan agar bersalaman dengan yg bukan mahram kita tersebut sedangkan itu nyata salah.
Bagaimana cara menjelaskannya agar ortu si anak paham dan mereka tidak tersinggung dengan penolakan anak untuk bersalaman..
Terimakasih.  🅰0⃣7⃣
Jawaban
--------------
www.manis.id
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
DR.  Yusuf Qardhawi (Ketua Persatuan Ulama Internasional) dalam bukunya Fatwa-fatwa Kontemporer (terbitan Gema Insani Pres) menjelaskan dengan detil terkait hukum berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram.
Kutipan kesimpulannya sbb:
(disarankan untuk mengkaji/membaca secara lengkap  di http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Jabat1.html )
"Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang diantara kamu dengan jarum besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya." [HR Thabrani-Baihaqi]
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pengambilan hadits di atas sebagai dalil:
1. Bahwa imam-imam ahli hadits tidak menyatakan secara jelas akan kesahihan hadits tersebut, hanya orang-orang seperti al-Mundziri dan al-Haitsami yang mengatakan, "Perawi-perawinya adalah perawi-perawi kepercayaan atau perawi-perawi sahih."
Perkataan seperti ini saja tidak cukup untuk menetapkan kesahihan hadits tersebut, karena masih ada kemungkinan terputus jalan periwayatannya (inqitha') atau terdapat 'illat (cacat) yang samar. Karena itu, hadits ini tidak diriwayatkan oleh seorang pun dari penyusun kitab-kitab yang masyhur, sebagaimana tidak ada seorang pun fuqaha terdahulu yang menjadikannya sebagai dasar untuk mengharamkan berjabat tangan antara laki-laki dengan perempuan dan sebagainya.
2. Andaikata kita terima bahwa hadits itu sahih dan dapat digunakan untuk mengharamkan suatu masalah, maka saya dapati petunjuknya tidak jelas. Kalimat "menyentuh kulit wanita yang tidak halal baginya" itu tidak dimaksudkan semata-mata bersentuhan kulit dengan kulit tanpa syahwat, sebagaimana yang biasa terjadi dalam berjabat tangan. Bahkan kata-kata al-mass (massa - yamassu - mass: menyentuh) cukup digunakan dalam nash-nash syar'iyah seperti Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan salah satu dari dua pengertian, yaitu:
- Bahwa ia merupakan kinayah (kiasan) dari hubungan biologis (jima') sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas dalam menafsirkan firman Allah: "Laamastum an-Nisa" (Kamu menyentuh wanita). Ibnu Abbas berkata, "Lafal al-lams, al-mulaamasah, dan al-mass dalam Al-Qur'an dipakai sebagai kiasan untuk jima' (hubungan seksual). Secara umum, ayat-ayat Al-Qur'an yang menggunakan kata al-mass menunjukkan arti seperti itu dengan jelas, seperti firman Allah yang diucapkan Maryam:
- Bahwa yang dimaksud ialah tindakan-tindakan dibawah kategori jima', seperti mencium, memeluk, merangkul, dan lain-lain yang merupakan pendahuluan bagi jima' (hubungan seksual). Ini diriwayatkan oleh sebagian ulama salaf dalam menafsirkan makna kata mulaamasah.
Dari Aisyah, ia berkata:
"Sedikit sekali hari (berlalu) kecuali Rasulullah saw. mengelilingi kami semua - yakni istri-istrinya - lalu beliau mencium dan menyentuh yang derajatnya dibawah jima'. Maka apabila beliau tiba di rumah istri yang waktu giliran beliau di situ, beliau menetap di situ."
Karena itu, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawa-nya melemahkan pendapat orang yang menafsirkan lafal "mulaamasah" atau "al-lams" dalam ayat tersebut dengan semata-mata bersentuhan kulit walaupun tanpa syahwat.
Dalam menutup pembahasan ini ada dua hal yang perlu saya tekankan:
Pertama, bahwa berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan itu hanya diperbolehkan apabila tidak disertai dengan syahwat serta aman dari fitnah (fitnah seperti: dituduh selingkuh, menjalin asmara). Apabila dikhawatirkan terjadi fitnah terhadap salah satunya, atau disertai syahwat dan taladzdzudz (berlezat-lezat) dari salah satunya (apa lagi keduanya) maka keharaman berjabat tangan tidak diragukan lagi.
Bahkan seandainya kedua syarat ini tidak terpenuhi - yaitu tiadanya syahwat dan aman dari fitnah - meskipun jabatan tangan itu antara seseorang dengan mahramnya seperti bibinya, saudara sesusuan, anak tirinya, ibu tirinya, mertuanya, atau lainnya, maka berjabat tangan pada kondisi seperti itu adalah haram.
Bahkan berjabat tangan dengan anak yang masih kecil pun haram hukumnya jika kedua syarat itu tidak terpenuhi.
Kedua, hendaklah berjabat tangan itu sebatas ada kebutuhan saja, seperti yang disebutkan dalam pertanyaan di atas, yaitu dengan kerabat atau semenda (besan) yang terjadi hubungan yang erat dan akrab diantara mereka; dan tidak baik hal ini diperluas kepada orang lain, demi membendung pintu kerusakan, menjauhi syubhat, mengambil sikap hati-hati, dan meneladani Nabi saw.
Dan yang lebih utama bagi seorang muslim atau muslimah - yang komitmen pada agamanya - ialah tidak memulai berjabat tangan dengan lain jenis. Tetapi, apabila diajak berjabat tangan barulah ia menjabat tangannya.
Saya tetapkan keputusan ini untuk dilaksanakan oleh orang yang memerlukannya tanpa merasa telah mengabaikan agamanya, dan bagi orang yang telah mengetahui tidak usah mengingkarinya selama masih ada kemungkinan untuk berijtihad.
Wallahu a'lam.
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh:
www.manis.id
📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
&#128421
; Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
&#128238
; Twitter : https://twitter.com/grupmanis
&#128248
; Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
&#128377
; Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
&#128241
; Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c
*** Sent from my QMobile ***
























Lupa Mandi Junub

Lupa Mandi Junub

Ustadz Menjawab
Jum'at, 10 Maret 2017
Ustadz Farid Nu'man Hasan

Assalamu'alaikum ustadz/ah..saya seorang suami, sebelum tidur kita berhubungan suami istri, paginya ketika sholat shubuh saya lupa mandi junub hingga masuk kerja. bagaimana sholat shubuh saya ?? harus di qodho atau bagaimana??? mohon penjelasannya. jzk #i09
Jawaban
--------------
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu 'Ala Rasulillah wa Ba'd:
Keadaan suci, baik dari najis dan hadats, merupakan syarat keabsahannya shalat sebagaimana keterangan semua madzhab. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut:

Allah ﷻ berfirman:

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا
Dan jika kalian junub maka bersucilah. (QS. Al Maidah: 6)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu 'Anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

لا تقبل صلاة بغير طهور

Shalat tidaklah diterima dengan tanpa bersuci. (HR. At Tirmidzi No. 1. Imam At Tirmidzi berkata: hadits ini adalah yang paling shahih dan hasan dalam bab ini. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: isnadnya shahih. Lihat Fathul Bari, 3/278)
Dari Ali Radhiallahu 'Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطَّهُورُ

Kunci pembuka shalat adalah bersuci. (HR. At Tirmidzi No. 3, Abu Daud No. 61. Imam Al Munawi mengatakan: isnadnya Shahih. Lihat At Taysir bisyarhil Jaami' Ash Shaghiir, 2/730)
Syaikh Abul 'Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah menjelaskan:

وسمى النبي صلى الله عليه و سلم الطهور مفتاحا مجاز لأن الحدث مانع من الصلاة

Nabi ﷺ menamakan bersuci adalah "kunci" merupakan majaz, karena hadats merupakan penghalang dari shalat. (Tuhfah Al Ahwadzi, 1/33)
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

ويجب على المصلي أن يأتي بها بحيث لو ترك شيئا منها تكون صلاته باطلة

Wajib bagi orang yang shalat untuk mendatangkan syarat sahnya shalat, yang jika dia tinggalkan satu bagian saja, maka shalatnya batal. (Fiqhus Sunnah, 1/123) Dan, salah satu syarat sahnya shalat itu Beliau sebutkan adalah suci dari hadats besar dan kecil.

*Bagaimana jika terlanjur shalat tanpa  tapi masih junub?*
Jika melakukannya karena lupa, maka dia tidak berdosa, tapi wajib mengulanginya, yaitu dia lakukan saat dia mengingatnya. Sebab, shalat yang telah dia lakukan tidak sah, dan mandi yang dia lakukan juga mandi biasa, sebab dia tidak meniatkan sebagai mandi junub.
Imam Ibnu Rajab Al Hambali Rahimahullah menjelaskan:

تمييز العبادات بعضها عن بعض ، كتمييز صلاة الظهر من صلاة العصر مثلاً  وتمييز صيام رمضان من صيام غيره ، أو تمييز العبادات من العادات ، كتمييز الغُسل من الجنابة من غسل التبرد والتنظف ، ونحو ذلك، وهذه النيَّةُ هي التي تُوجد كثيراً في كلام الفقهاء في كتبهم .

(Niat) itu   membedakan sebagian ibadah dengan ibadah lainnya, seperti membedakan shalat Dzuhur dengan shalat Ashar, membedakan puasa Ramadhan dengan puasa lainnya. Atau membedakan antara ibadah dengan adat kebiasaan, misalnya *membedakan antara mandi junub dengan mandi untuk menyejukkan badan atau membersihkannya,* dan lain sebagainya. Niat seperti inilah yang banyak sekali dijumpai di perkataan para fuqaha'.  *(Jaami' Al 'Uluum wal Hikam, hal. 11)*
Jika dia belum mandi junub, maka mandilah dengan niat mandi junub, lalu shalatlah. Demikian.
Wallahu a'lam.

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id






























Diterimanya Kiriman Amal Ke Mayyit

Diterimanya Kiriman Amal Ke Mayyit

Ustadz Menjawab
Kamis, 02 Maret 2017
Ustadz Farid Nu'man Hasan

Assalamu'alaikum, ustadz/ustadzah ....Apakah boleh amalan ibadah kita seperti baca al quran,berinfak,dll kita sedekah kan untuk orangtua kita yg sdh meninggal..Apakah ada dalil dan hadistnya? Jzkllh🙏 Member A04
Jawaban
--------------
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
*Menurut Hadits Nabi dan  Ijma' (kesepakatan) Ahlus Sunnah dan seluruh kaum muslimin Sedekah Untuk Mayit adalah Sampai, Mengingkarinya Merupakan Kekeliruan Nyata*

Bersedekah yang diniatkan kebaikan pahalanya untuk orang tua yang sudah wafat, telah menjadi keyakinan dan ijma (aklamasi) seluruh para Salafush Shalih, dan imam kaum muslimin dari zaman ke zaman bahwa hal itu boleh, dan sampai pahalanya kepada mayit. Tak satu pun  ulama yang mengingkarinya. Sedangkan, ijma merupakan salah satu sumber hukum Islam, setelah Al Quran dan As Sunnah.
Berikut dalil-dalil  shahih 'sampainya pahala sedekah ke mayit':

Hadits 1:
Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu, katanya:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَبِي مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا وَلَمْ يُوصِ فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ
"Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: "Sesungguhnya ayahku sudah wafat, dia meninggalkan harta dan belum diwasiatkannya, apakah jika disedekahkan untuknya maka hal itu akan menghapuskan kesalahannya? Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawa: Naam (ya). (HR. Muslim No. 1630, Ibnu Majah No.  2716, An Nasai No. 3652, Ahmad No. 8486)

Hadits ini sanadnya shahih. (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Shahih wa Dhaif Sunan Nasai No. 3562, dan Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 2716)

Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, memasukkan hadits ini dalam Bab Wushul Tsawab Ash Shadaqat Ilal Mayyit (Bab: Sampainya pahala Sedekah kepada Mayit).

Imam An Nasa'i dalam kitab Sunan-nya memasukkan hadits ini dalam Bab Fadhlu Ash Shadaqat 'anil Mayyit (Bab: Keutamaan Bersedekah Untuk Mayyit)

Hadits 2:
Dari 'Aisyah Radhiallahu 'Anha, katanya:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا
"Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: Sesungguhnya ibuku wafat  secara mendadak, aku kira dia punya wasiat untuk sedekah, lalu apakah ada pahala baginya jika aku bersedekah untuknya? Beliau menjawab: Naam (ya), sedekahlah untuknya. (HR. Bukhari No. 2609, 1322, Muslim No. 1004, Malik No. 1451, hadits ini menurut lafaz Imam bukhari)

Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya memasukkan hadits ini dalam Bab Maa Yustahabu Liman Tuwufiya Fujaatan An Yatashaddaquu Anhu wa Qadhai An Nudzur anil Mayyit (Bab: Apa saja yang dianjurkan bagi yang wafat tiba-tiba, bersedekah untuknya, dan memenuhi nazar si mayyit).

  Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya memasukkan hadits ini dalam Bab Wushul tsawab Ash Shadaqah anil Mayyit Ilaih. (Sampainya pahala sedekah dari Mayit kepada yang Bersedekah)

Hadits 3:

Dari Saad bin Ubadah Radhiallahu Anhu, katanya:

قلت يا رسول الله إن أمي ماتت أفأتصدق عنها قال نعم قلت فأي الصدقة أفضل قال سقي الماء .
"Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku wafat, apakah aku bersedekah untuknya? Beliau menjawab: Ya. Aku berkata: "Sedekah apa yang paling afdhal?" Beliau menjawab: Mengalirkan air. (HR. An Nasai No. 3664, Ibnu Majah No. 3684)

Hadits ini sanadnya shahih. (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Shahih wa Dhaif Sunan An Nasai No. 3664, dan Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3684)
Dan masih banyak hadits lainnya.

Semua hadits ini adalah shahih. Penjudulan nama Bab yang dibuat oleh para imam ini sudah menunjukkan  kebolehan bersedekah untuk mayit, serta sampainya manfaat pahala untuk mayit dan juga pahala bagi yang bersedekah. Tak ada yang mengingkarinya kecuali kelompok inkar sunnah (kelompok yang menolak hadits nabi) dan mu'tazilah (kelompok yang mendewakan akal).

Pandangan Imam Ahlus Sunnah
Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan tentang maksud hadits di atas:

وَفِي هَذَا الْحَدِيث جَوَاز الصَّدَقَة عَنْ الْمَيِّت وَاسْتِحْبَابهَا ، وَأَنَّ ثَوَابهَا يَصِلهُ وَيَنْفَعهُ ، وَيَنْفَع الْمُتَصَدِّق أَيْضًا ، وَهَذَا كُلّه أَجْمَعَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ
"Dalam hadits ini menunjukkan bolehnya bersedekah untuk mayit dan itu disunahkan melakukannya, dan sesungguhnya pahala sedekah itu sampai kepadanya dan bermanfaat baginya, dan juga bermanfaat buat yang bersedekah. Dan, semua ini adalah ijma (kesepakatan) semua kaum muslimin. (Imam An Nawawi, Al Minhaj Syah Shahih Muslim, 6/20. Mawqi Ruh Al Islam)

  Imam Ibnu Katsir Rahimahullah, dalam kitab tafsirnya:

  فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما، ومنصوص من الشارع عليهما.
"Adapun doa dan bersedekah, maka keduanya telah disepakati (ijma') akan sampai kepadanya (mayit), dan keduanya memiliki dasar dalam nash  syariat." (Tafsir Al Quran Al 'Azhim,  Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al 'Azhim, Juz.7, Hal. 465. Dar Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi'. Cet. 2, 1999M-1420H)

Imam Abu Sulaiman Walid Al Baji Rahimahullah mengatakan:

فَاسْتَأْذَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَم فِي أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْهَا فَأَذِنَ لَهُ فِي ذَلِكَ فَثَبَتَ أَنَّ صَدَقَتَهُ عَنْهَا مِمَّا يُتَقَرَّبُ بِهِ
"Maka, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengizinkan bersedekah darinya, hal itu diizinkan untuknya, karena sedekahnya itu termasuk apa-apa yang bisa mendekatkan dirinya (kepada Allah)." (Al Muntaqa' Syarh Al Muwaththa', 4/74. Mawqi' Al Islam)

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لَيْسَ فِي الْآيَةِ وَلَا فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الْمَيِّتَ لَا يَنْتَفِعُ بِدُعَاءِ الْخَلْقِ لَهُ وَبِمَا يُعْمَلُ عَنْهُ مِنْ الْبِرِّ بَلْ أَئِمَّةُ الْإِسْلَامِ مُتَّفِقُونَ عَلَى انْتِفَاعِ الْمَيِّتِ بِذَلِكَ وَهَذَا مِمَّا يُعْلَمُ بِالِاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ وَقَدْ دَلَّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَالْإِجْمَاعُ فَمَنْ خَالَفَ ذَلِكَ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ .
"Segala puji bagi Allah. Tidak ada dalam ayat, dan tidak pula dalam hadits, yang mengatakan bahwa 'Tidak Bermanfaat' doa seorang hamba bagi mayit, dan juga amal perbuatan yang diperuntukkannya berupa amal kebaikan, bahkan para imam Islam sepakat hal itu bermanfaat bagi mayit, hal ini sudah ketahui secara pasti dalam agama Islam, hal itu telah ditunjukkan oleh Al Quran, As Sunnah, dan ijma. Barang siapa yang menyelesihinya, maka dia adalah ahli bidah. (Majmu Fatawa, 5/466. Mawqi Al Islam)
Beliau juga berkata:

وَالْأَئِمَّةُ اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ الصَّدَقَةَ تَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ وَكَذَلِكَ الْعِبَادَاتُ الْمَالِيَّةُ : كَالْعِتْقِ
"Para imam telah sepakat bahwa sedekah akan sampai kepada mayit, demikian juga ibadah maliyah (harta), seperti membebaskan budak." (Ibid)

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

أَيَّ قُرْبَةٍ فَعَلَهَا الإِْنْسَانُ وَجَعَل ثَوَابَهَا لِلْمَيِّتِ الْمُسْلِمِ نَفَعَهُ ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى : كَالدُّعَاءِ وَالاِسْتِغْفَارِ ، وَالصَّدَقَةِ وَالْوَاجِبَاتِ الَّتِي تَدْخُلُهَا النِّيَابَةُ
"Amal apa pun demi mendekatkan diri kepada Allah yang dilakukan oleh manusia dan menjadikan pahalanya untuk mayit seorang muslim, maka hal itu membawa manfaat bagi mayit itu, Insya Allah, seperti: doa, istighfar, sedekah, dan kewajiban yang bisa diwakilkan." (Al Mughni, 567-569)

Kewajiban yang bisa diwakilkan adalah haji dan puasa, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits-hadits shahih.

Imam Khathib Asy Syarbini Rahimahullah mengatakan:

تَنْفَعُ الْمَيِّتَ صَدَقَةٌ عَنْهُ ، وَوَقْفٌ وَبِنَاءُ مَسْجِدٍ ، وَحَفْرُ بِئْرٍ وَنَحْوُ ذَلِكَ
"Sedekah bagi mayit  membawa manfaat baginya, wakaf membangun masjid, dan membuat sumur air dan semisalnya .." (Mughni Muhtaj, 3/69-70) 

Imam Al Bahuti Rahimahullah   mengatakan:

قَالَ أَحْمَدُ : الْمَيِّتُ يَصِلُ إلَيْهِ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ الْخَيْرِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ صَلَاةٍ أَوْ غَيْرِهِ لِلْأَخْبَارِ .
Imam Ahmad mengatakan, bahwa  semua bentuk amal shalih dapat sampai kepada mayit baik berupa doa, sedekah, dan amal shalih lainnya, karena adanya riwayat tentang itu. (Syarh Muntaha Al Iradat, 3/16)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin  Baz Rahimahullah – mantan Mufti Saudi Arabia- mengatakan:

وهكذا القراءة للأموات أيضا ليس لها أصل والواجب ترك ذلك.
أما الصدقة عن أموات المسلمين والدعاء لهم ، فكل ذلك مشروع
"Demikian juga membaca Al Quran untuk mayit, ini juga tidak memiliki dasarnya, maka wajib ditinggalkan. Ada pun bersedekah dan berdoa bagi mayit kaum muslimin, maka  semua ini disyariatkan." (Syaikh Bin Baz, Fatawa Nur 'Alad Darb, 1/89)

Syaikh Muhammad bin Shalih 'Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

أما الصدقة عن الميت فلا بأس بها يجوز أن يتصدق فإن رجلاً جاء إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله إن أمي قد افتلتت نفسها وأظنها لو تصدقت لتكلمت أفأتصدق عنها قال نعم فيجوز للإنسان أن يتصدق عن أبيه إذا مات وعن أمه وعن إخوته وأقاربه وكذلك عن غيره من المسلمين
"Ada pun sedekah buat mayit, maka itu tidak apa-apa, boleh bersedekah (untuknya). Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku wafat  mendadak, aku mengira dia berencana untuk bersedekah, apakah saya boleh bersedekah untuknya? Beliau menjawab: Ya. Maka, boleh bagi manusia bersedekah untuk ayahnya jika sudah wafat, juga untuk ibunya, saudaranya, kerabatnya, demikian juga untuk yang lainnya dari kaum muslimin." (Syaikh Muhammad bin Shalih 'Utsaimin, Fatawa Nur 'Alad Darb, No. 44)

Dan masih banyak ulama lainnya, namun para ulama di atas sudah mewakili yang lainnya, bahwa bersedekah untuk mayit adalah boleh, dan sampai pahalanya kepada mayit, serta berpahala juga bagi yang bersedekah. Ini adalah ijma' (kesepakatan) kaum muslimin dari dahulu hingga saat ini, bahkan Imam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa hal ini telah diketahui secara pasti dalam agama. Maka, barang siapa yang mengingkarinya –kata Imam Ibnu Taimiyah- dia adalah ahli bid'ah (pelaku kesesatan).
Bukan hanya itu, mengingkari hal ini merupakan pengingkaran terhadap sunah nabi, dan Imam Asy Syaukani  dan lainnya menyebutkan pengingkaran hal ini hanya dilakukan oleh kaum mu'tazilah (pendewa akal).
Kehujjahan Ijma' telah diakui semua umat Islam, kecuali para pengikut hawa nafsu. Berkata Imam Ibnu Taimiyah:

الْإِجْمَاعُ وَهُوَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ عَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ الْفُقَهَاءِ وَالصُّوفِيَّةِ وَأَهْلِ الْحَدِيثِ وَالْكَلَامِ وَغَيْرِهِمْ فِي الْجُمْلَةِ وَأَنْكَرَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْبِدَعِ مِنْ الْمُعْتَزِلَةِ وَالشِّيعَةِ
"Ijma' telah menjadi kesepakatan antara umumnya kaum muslimin, baik dari kalangan ahli fiqih, sufi, ahli hadits, dan ahli kalam, serta selain mereka secara global, dan yang mengingkarinya adalah sebagian ahli bid'ah seperti mu'tazilah dan syi'ah." ( Majmu' Fatawa, 3/6. Mawqi' Al Islam)

Dan, orang-orang yang mengingkari ijma' adalah penghancur dasar-dasar agama, sebagaimana kata Imam As Sarkhasi dalam kitab Ushul-nya:
"Orang-orang yang mengingkari keberadaan ijma sebagai hujjah , maka mereka telah membatalkan ushuluddin (dasar-dasar agama), padalah lingkup dasar-dasar agama dan referensi umat Islam adalah ijma'nya mereka, maka para munkirul ijma (pengingkar ijma') merupakan orang-orang yang merobohkan dasar-dasar agama." (Ushul As Sarkhasi, 1/296. Darul Kutub Al 'Ilmiyah)

Al Imam  Al Hafizh  Al Khathib Al Baghdadi   berkata:
"Ijma' (kesepakatan) ahli ijtihad dalam setiap masa adalah satu di antara hujjah-hujjah Syara' dan satu di antara dalil-dalil hukum yang dipastikan benarnya". (Al Faqih wal Mutafaqih, 1/154)

Allah Ta'ala memerintahkan agar kita mengikuti ijma', dan bagi penentangnya disebut sebagai orang-orang yang mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman, yakni dalam firmanNya:
"Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu  dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An Nisa (4): 115)

Dalam hadits juga disebutkan:

إن الله تعالى لا يجمع أمتي على ضلالة وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَة
"Sesungguhnya Allah Ta'ala tidaklah meng-ijma'kan  umatku dalam kesesatan, dan tangan Allah bersama jamaah." (HR. At Tirmidzi No. 2255, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami' No 1848)

Demikian, Semoga bermanfaat bagi siapa saja yang menginginkan kebenaran.
Wallahu A'lam wa ilaihi musytaka …

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id